Sesi pertama adalah sambutan dari Dirut LPDP dan Sekjen
Kemendikbud. Menurut Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP, dana abadi
pendidikan untuk tahun 2013 adalah sebesar 15 trilyun rupiah dan pada tahun
2014 diharapkan menjadi 20 trilyun rupiah. Dana abadi tersebut digunakan untuk
studi lanjut (magister/doktor), riset inovatif, dan rehabilitasi infrastruktur
pendidikan yang rusak akibat bencana alam. Pada dasarnya, dana tersebut berasal
dari pajak yang dibayar oleh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Profesor Ainun
selaku Sekjen Kemendikbud menekankan pentingnya transparansi dan kerja sama
dari penerima beasiswa.
Sesi kedua setelah makan siang bertajuk “What, Why, and How
LPDP?”. Sesi ini dipresentasikan oleh jajaran direksi LPDP. Indonesia merupakan
negara dengan potensi yang besar, tetapi belum terberdayakan dalam hal sumber
daya manusia. Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga
seperti Singapura atau Malaysia yang jumlah doktor per satu juta penduduknya
sangat banyak. Selain itu, Indonesia membutuhkan 7.000-10.000 orang doktor
untuk mendukung program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia). Belum lagi Indonesia merupakan negara yang sering diguncang
dengan ancaman bencana alam seperti gempa atau tsunami.
Di sisi yang lain, pendidikan jenjang tinggi juga harus
dibarengi dengan riset. Riset yang tepat guna dan inovatif dapat diaplikasikan
secara masif dan dipatenkan. Mirisnya, Indonesia yang merupakan sumber utama
kelapa sawit dan tempe malah terbelakang dalam hal riset di kedua komoditas
ini. Malaysia justru lebih memiliki paten kelapa sawit yang lebih banyak.
Jepang malah memiliki hak paten atas tempe yang jelas-jelas makanan asli
Indonesia. Oleh karena itu, melalui LPDP, penerima beasiswa diharapkan memiliki
nilai (values) integritas, nasionalisme, berwawasan global, etik, dan kemampuan
dasar yang mumpuni.
Sesi terakhir dimulai pukul 16:00 dan dibawakan oleh Goris
Mustaqim. Kang Goris yang merupakan alumni teknik sipil ITB ini mengedepankan
sociopreneurship atau social enterprise. Tindakan nyata ini diwujudkan dengan
membangun desa asal Kang Goris di Garut yang berhulu dari kemiskinan dan
keterpurukan masyarakat lokal. Pada dasarnya, kemiskinan bukan hanya masalah
ekonomi, tetapi masalah mindset alias pola pikir. Hal ini yang coba diubah oleh
Kang Goris: bukan memberikan ikan, tetapi memberikan kail untuk memancing.
Melalui “Asgar Muda”, Goris Mustaqim membangun desanya di Garut.
Social enterprise harus memiliki target sosial yang tajam dan model bisnis yang terstruktur. Di Garut, Kang Goris juga bergerak di bidang pendidikan dan inkubator kewirausahaan. Pendidikan ia yakini sebagai pengalaman untuk mengubah hidup seseorang dan kewirausahaan sebagai pendapatan berkelanjutan masyarakat. Tidak mudah memberikan pengaruh positif kepada masyarakat yang sudah alot dengan zaman. Masalah sosial kerap kali muncul, tetapi solusi yang paling efektif adalah dengan melakukan pendekatan secara peralahan dan rutin.
Jangan menuntut perubahan, jadilah perubahan itu!
Sumber 1: Berita LPDP
Sumber 2: Komoditas Indonesia
Sumber 3: Sociopreneurship
Sumber 1: Berita LPDP
Sumber 2: Komoditas Indonesia
Sumber 3: Sociopreneurship
Tidak ada komentar:
Posting Komentar