Rabu, 26 Juni 2013

Review Hari Pertama

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah BLU (Badan Layanan Umum) yang merupakan integrasi dari tiga kementerian: Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama. Hingga tulisan ini dibuat, baru terdapat satu batch penerima beasiswa dengan jumlah 65 orang. Saat ini sedang dilakukan proses pengayaan materi untuk batch kedua dengan jumlah 139 orang calon penerima beasiswa. Hari pertama proses pengayaan dilaksanakan pada tanggal 26 Juni 2013 dan bertempat di kantor Kemendikbud di daerah Senayan.

Sesi pertama adalah sambutan dari Dirut LPDP dan Sekjen Kemendikbud. Menurut Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP, dana abadi pendidikan untuk tahun 2013 adalah sebesar 15 trilyun rupiah dan pada tahun 2014 diharapkan menjadi 20 trilyun rupiah. Dana abadi tersebut digunakan untuk studi lanjut (magister/doktor), riset inovatif, dan rehabilitasi infrastruktur pendidikan yang rusak akibat bencana alam. Pada dasarnya, dana tersebut berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Profesor Ainun selaku Sekjen Kemendikbud menekankan pentingnya transparansi dan kerja sama dari penerima beasiswa.

Sesi kedua setelah makan siang bertajuk “What, Why, and How LPDP?”. Sesi ini dipresentasikan oleh jajaran direksi LPDP. Indonesia merupakan negara dengan potensi yang besar, tetapi belum terberdayakan dalam hal sumber daya manusia. Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia yang jumlah doktor per satu juta penduduknya sangat banyak. Selain itu, Indonesia membutuhkan 7.000-10.000 orang doktor untuk mendukung program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Belum lagi Indonesia merupakan negara yang sering diguncang dengan ancaman bencana alam seperti gempa atau tsunami.

Di sisi yang lain, pendidikan jenjang tinggi juga harus dibarengi dengan riset. Riset yang tepat guna dan inovatif dapat diaplikasikan secara masif dan dipatenkan. Mirisnya, Indonesia yang merupakan sumber utama kelapa sawit dan tempe malah terbelakang dalam hal riset di kedua komoditas ini. Malaysia justru lebih memiliki paten kelapa sawit yang lebih banyak. Jepang malah memiliki hak paten atas tempe yang jelas-jelas makanan asli Indonesia. Oleh karena itu, melalui LPDP, penerima beasiswa diharapkan memiliki nilai (values) integritas, nasionalisme, berwawasan global, etik, dan kemampuan dasar yang mumpuni.   

Sesi terakhir dimulai pukul 16:00 dan dibawakan oleh Goris Mustaqim. Kang Goris yang merupakan alumni teknik sipil ITB ini mengedepankan sociopreneurship atau social enterprise. Tindakan nyata ini diwujudkan dengan membangun desa asal Kang Goris di Garut yang berhulu dari kemiskinan dan keterpurukan masyarakat lokal. Pada dasarnya, kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi masalah mindset alias pola pikir. Hal ini yang coba diubah oleh Kang Goris: bukan memberikan ikan, tetapi memberikan kail untuk memancing. Melalui “Asgar Muda”, Goris Mustaqim membangun desanya di Garut.

Social enterprise harus memiliki  target sosial yang tajam dan model bisnis yang terstruktur. Di Garut, Kang Goris juga bergerak di bidang pendidikan dan inkubator kewirausahaan. Pendidikan ia yakini sebagai pengalaman untuk mengubah hidup seseorang dan kewirausahaan sebagai pendapatan berkelanjutan masyarakat. Tidak mudah memberikan pengaruh positif kepada masyarakat yang sudah alot dengan zaman. Masalah sosial kerap kali muncul, tetapi solusi yang paling efektif adalah dengan melakukan pendekatan secara peralahan dan rutin.

Jangan menuntut perubahan, jadilah perubahan itu!

Sumber 1: Berita LPDP
Sumber 2: Komoditas Indonesia
Sumber 3: Sociopreneurship

Tidak ada komentar:

Posting Komentar