Rabu, 03 Juli 2013

Review Hari Kedelapan

Hari ini berbeda. Biasanya, kami dikumpulkan dalam sebuah ruangan untuk menerima materi. Hari ini diadakan kegiatan outbound.

Outbound dilaksanakan di Taman Wiladatika di daerah Cibubur yang ternyata tidak jauh dari wisma tempat tinggal kami di Depok. Sebelum melakukan outbound, setiap gabungan dari dua kelompok peserta melakukan presentasi ke hadapan direksi LPDP. Isi yang disampaikan adalah visi, misi, dan perbaikan untuk LPDP ke depannya.

Ada empat macam permainan yang kami lalui. Sebelum memulai permainan, kami dicekoki pentingnya solidaritas dan sportivitas agar meraih sukses. Definisi sukses di sini adalah selesai dan sesuai. Kelompok yang terdiri dari 13-15 orang ini berkompetisi di setiap permainan.

Kegiatan terakhir yang dilakukan adalah kompetisi menyalakan obor. Tantangannya, tim lawan akan berusaha mematikan lilin yang dibawa untuk menyalakan obor dengan melemparkan kantung plastik berisi air. Hampir semua peserta dipastikan basah kuyup. Momen terakhir adalah setiap kelompok bekerja sama untuk menyalakan sumbu obor yang terletak tinggi. Dengan kerja sama membentangkan lilin yang diikat, walaupun obor utama terletak di tengah dan tinggi, kami semua berhasil menyalakannya.

"Jangan lupa, kita orang Indonesia."

Review Hari Ketujuh

Pencitraan sering diidentikkan dengan sesuatu yang negatif. Padahal, membangun sebuah citra yang kuat sangat erat kaitannya dengan karakter. Hal itu penting agar setiap individu yang memproyeksikan dirinya menjadi pemimpin, harus memiliki citra yang kuat pula. Sayangnya, akibat banyak media yang menyoroti pelaku pemimpin yang tidak menepati janji, unsur kebaikan dari pencitraan itu justru luntur. Padahal, pencitraan adalah suatu hal yang lumrah dilakukan. Yang jelek adalah pencitraan semu, yakni pencitraan yang hanya mengumbar janji belaka.

Ibu Amalia Maulana selaku pakar etnografi di Indonesia menjelaskan bahwa setiap dari kita pasti memiliki hal-hal yang terasosiasi. Citra adalah apa yang terpikirkan pertama kali dari seorang individu oleh masyarakat umum ketika seorang itu tidak ada. Membangun citra itu penting agar kita bisa mengenal jati diri dan fokus di bidang itu.

Transformational Leaders

Di tahun 2030, Indonesia diproyeksikan menduduki peringkat ketujuh negara dengan perekonomian terbesar. Masa depan seperti ini perlu disambut dengan lahirnya generasi pemimpin yang sehat lahir dan batin. Kepemimpinan itu seputar sikap dan perilaku, bukan mengenai kekuasaan, tetapi kharisma pribadi untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Satu hal yang ditekankan oleh Bapak Sudirman Sahid yang sekarang menjabat sebagai wakil direktur utama PT. Petrosea, Tbk., kepemimpinan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor genetis. Kepemimpinan bisa diasah dan perlu manajemen diri agar terus mendapat asupan energi yang berupa keinginan besar revolusi kebaikan.

"To get good government, you have to have good men."

Senin, 01 Juli 2013

Review Hari Keenam

Kantor Mandiri menjadi tujuan kami di hari pertama bulan Juli. Sebagai informasi, Mandiri bukan hanya sebuah bank, tetapi telah memiliki segmen bisnis. Pada mulanya, Bank Mandiri terbentuk dari merger (gabungan) empat buah bank saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Mandiri telah bertransformasi secara besar-besaran dengan basis profesionalisme. Dan Mandiri berhasil mengukuhkan eksistensinya sebagai bank BUMN dengan standar dunia.

Perubahan yang dilakukan tidak main-main. Hal ini dimulai dari pemimpin tertinggi yang tegas sehingga bisa meneruskan profesionalisme hingga ke paling dasar. Tentunya tidak mudah membangun kultur ini di tengah carut-marut dunia perekonomian. Oleh karena itu, Mandiri telah memilih beberapa orang karyawannya sebagai agen perubahan yang bertugas mengubah empat orang agar etos kerjanya terus meningkat. Sistem perilaku seperti ini dikontrol oleh bagian pengembangan sumber daya manusia. Mandiri harus diapresiasi karena memosisikan karyawan sebagai aset yang punya potensi dan patut dikembangkan.

Di akhir sesi, peserta didorong agar matanya melek terhadap finansial. Pengontrolan uang yang diterima adalah sesuatu yang penting dan sebenarnya sebuah seni dalam pengalokasian anggaran hidup. Di dalam diskusi ini ditekankan betapa pentingnya mengatur persentase pengeluaran berdasarkan skala prioritas. Selain itu, investasi harus dilakukan sedini mungkin mengingat terjadinya penurunan nilai mata uang akibat inflasi dan perekonomian global.

Minggu, 30 Juni 2013

Review Hari Kelima

Hari ini pertama kalinya saya membuka komputer jinjing selama materi berlangsung. Kedua pembicara memang mengharuskan pesertanya berinteraksi dengan dengannya melalui laptop.

Materi pertama adalah teknik presentasi. Apapun pekerjaannya, presentasi memegang peranan yang penting karena banyak aspek yang terlibat selama proses itu berlangsung. Mulai dari konten slide, dekorasi, mimik, gestur, dan cara berpakaian memengaruhi impresi seseorang saat dia melakukan presentasi. Materi ini dibawakan oleh Tedi J. Sitepu dan saya sangat mengapresiasi beliau karena tepat mengena langsung ke sasaran. Pada intinya, yang harus dipastikan adalah materi tersampaikan dengan baik dari presenter ke audiens. Atas dasar ini, faktor Pak Tedi menjabarkan banyak faktor teknis seperti visualisasi slide, pengenalan lingkungan, cara berpakaian, hingga pengenalan alat tidak boleh dianggap sepele.

Setelah makan siang, materi selanjutnya berjudul "Delivering Knowledge via Social Media" disampaikan oleh Yunus Bani. Poin yang saya sepakati dari beliau adalah personal branding di dunia maya adalah suatu yang penting di era teknologi seperti sekarang. Namun, saya berpendapat bahwa beliau terlalu subjektif mengenal berbagai macam sosial yang ada. Hal ini berdampak pada proses penyampaian materi yang cenderung menggurui saklek bagaimana cara berinteraksi menurut versi beliau. Padahal, menurut saya, setiap orang yang bervisi jauh ke depan akan sadar pentingnya berinteraksi di dunia maya sehingga menggunakan media seperti blog, facebook, twitter, dan yang lain secara proporsional. Oleh karena itu, tidak perlu ada jabaran secara teknis mengenai apa yang seharusnya iya atau tidak dilakukan dalam penggunaan media sosial.

Sabtu, 29 Juni 2013

Review Hari Keempat

Singgah di negeri orang dalam jangka waktu yang lama bukanlah perkara yang mudah. Terlebih lagi ada perbedaan budaya yang teramat kontras antara bangsa Barat dengan Timur. Di sinilah pentingnya untuk belajar hidup dan beradaptasi budaya karena pada dasarnya, budaya adalah alur berpikir yang membedakan satu kelompok manusia dengan yang lain. Proses lintas budaya yang baik ditunjukkan dari rasa nyaman, hubungan yang baik, dan bekerja yang efektif. Budaya adalah sesuatu yang dipelajari dan merefleksikan kepribadian yang merupakan sifat unik seseorang.

Pada prakteknya, banyak hal teknis dan printilan yang mengagetkan diri sendiri. Hal ini adalah hal biasa dan saya yakin bahwa kekeliruan untuk pertama kali dalam setiap hal adalah sesuatu yang wajar. Satu kutipan yang sangat menempel di batin saya adalah "you have to learn, yet you have to unlearn too". Kebanyakan mahasiswa Indonesia terlalu menitikberatkan pada sisi "learn" tapi melupakan bagian "unlearn". Unlearn di sini adalah melepaskan keburukan dan sifat jelek. Tidak lupa sikap fokus ditunjukkan dengan piawai dalam mengelola pikiran berdasarkan prioritas agar studi tidak melenceng dari tujuan awal.

Tekad yang perlu ditanamkan adalah penyerapan segala unsur positif di negeri orang, lalu kembali ke ibu pertiwi untuk penerapan secara nyata. Kenapa tidak?

Jumat, 28 Juni 2013

Review Hari Ketiga

Nilai Kebangsaan
Hari ketiga program pengayaan diawali dengan materi “Pengantar Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia”. Materi dibawakan oleh Mayjen TNI (Purn.) Imam Masjudi. Pada intinya, materi ini menekankan pentingnya berpegang teguh kepada empat konsensus dasar nasional karena masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk dan terpisah secara geografis (kepulauan). Empat konsensus dasar nasional yang disebutkan adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan pegangan yang kuat, diharapkan nilai kebangsaan dapat mengasah rasa dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang lestari dan saling memahami.
  1. Pancasila. Pancasila adalah rumusan pembukaan UUD 1945 yang digali dari khasanah budaya bangsa dan bercirikan kelima sila yang terkandung di dalamnya. Pancasila bersikap sebagai dasar negara, ideology nasional, dan pandangan hidup bangsa.
  2. UUD 1945. UUD 1945 adalah jiwa kehidupan bangsa yang di dalamnya terdapat gambaran cita-cita nasional (visi) dan tujuan nasional (misi).
  3. NKRI. Unsur NKRI menyatukan keterpisahan geografis agar kuat dalam kesatuan.
  4. Bhinneka Tunggal Ika. Pada dasarnya, setiap manusia merupakan bagian kecil dari ciptaan Tuhan yang berujung kepada pembaktian kepada Tuhan pula. Artinya, suku, agama, ras, dan antar-golongan adalah hal yang harus dikesampingkan.
Menurut pandangan saya, sikap patriotisme bukanlah sesuatu yang bisa disampaikan atau diwariskan melalui ruang kelas atau diskusi dua arah. Penjabaran poin di atas tiada artinya alias omong kosong apabila tidak ada rasa empati. Dari rasa empati ini, cinta kepada Indonesia bisa tumbuh dengan sendirinya di dalam kalbu. Saya yakin setiap bidang keilmuan memiliki peran baik secara langsung maupun tidak ke masyarakat. Patriotisme itu bisa muncul dengan cara menyelami permasalahan yang terkait dengan bidang kita dan akhirnya bisa memproyeksikan menjadi apa di masa depan untuk membenahi kebobrokan sistem eksisting.

Kapasitas dan Karakter
Sesi kedua berjudul “Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Mendatang” oleh Imam Prasodjo. Dua hal yang ditekankan Pak Imam adalah kapasitas (membaca masalah) dan karakter (menentukan tindakan). Saking carut-marutnya, bahkan Pak Imam mengatakan Indonesia sudah berada di taraf abnormal dan tidak bisa diselesaikan secara normal pula.

Indonesia sekarang mengalami defisit kepercayaan publik. Hal ini terjadi karena berbagai media yang ada hanya memunculkan energi negatif seperti korupsi, perampokan, pemerkosaan, dan sejenisnya. Indonesia membutuhkan pemimpin berkarakter yang bisa membangun jiwa rakyatnya. Seorang disebut pemimpin apabila mampu menggerakkan massa, visioner, melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, bergerak bersama rakyat, dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Satu hal yang saya paling ingat saat sesi Pak Imam adalah bagaimana menghadapi sistem yang sudah kusut. Apabila sistem dan birokrasi di negeri ini adalah empang, maka empang itu berwarna hitam pekat. Bagaimana cara sekumpulan orang yang idealis menjernihkan kembali empang tersebut?
  1. Membentuk pulau integritas. Hal ini dilakukan dengan menjaga hubungan/jaringan dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama.
  2. Terjun ke dalam sistem sembari mengembangkan sistem yang seharusnya.
Dibutuhkan lebih dari keajaiban untuk menjernihkan empang tersebut. Keajaiban itu berasal dari niat yang baik, kerja keras, dan auman singa pemimpin.

Publikasi Ilmiah
Mengapa omset Telkomsel lebih besar daripada Pos Indonesia? Karena orang Indonesia lebih senang berbicara daripada menulis. Pernyataan sebelumnya yang diungkapkan oleh Profesor Nasikin ada benarnya dan ternyata kemampuan penulis merupakan hal yang belum membudaya di negeri ini. Padahal, sebuah publikasi ilmiah memiliki tahapan sistematis yang harus dikerjakan secara urut agar hasilnya berkualitas. Mengapa harus ada publikasi ilmiah?
  1. Informasi riset yang sudah dilakukan. 
  2.  Mendapat review dari seluruh dunia.
  3. Agar tidak terjadi overlapping dalam penelitian.
  4. Sebagai syarat kelulusan.
Sebuah riset diharapkan dapat menyelesaikan masalah dan memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan. Kasusnya, ada lima milyar orang di dunia dan sangat besar kemungkinannya ditemukan penelitian yang sama. Oleh karena itu, tidaklah mudah mencari novelty atau sesuatu yang murni baru. Pada dasarnya, tidak usah terlalu jauh mencari ide untuk dijadikan riset. Permasalahan bangsa yang lingkupnya besar terdiri dari banyak permasalahan kecil yang justru seringkali tidak tertangkap oleh mata.

Publikasi yang baik memenuhi salah satu (atau keduanya) dari perlu dan bisa. Perlu artinya riset ini diperlukan karena memecahkan suatu permasalahan dan tidak overlapping dengan riset lain. Sedangkan bisa artinya riset dapat dilakukan dari segi biaya, waktu, dan sumber daya manusia (realistis). Pada akhirnya, menurut saya, menulis publikasi ilmiah membutuhkan kemampuan khusus yang bisa diasah dan pengalaman berbicara. Menulis publikasi ilmiah melatih kapasitas kita agar dapat berpikir secara sistematis dalam menyelesaikan masalah hidup yang ada.

Sumber 1: 4 Pillars of Indonesia
Sumber 2: Character Building
Sumber 3: Scientific Research

Kamis, 27 Juni 2013

Review Hari Kedua

Pagi diawali dengan senam bersama agar badan lebih bugar dan interaksi menjadi lebih terjaga. Pukul 8 pagi dilanjutkan dengan diskusi dengan tajuk masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia yang dibawakan oleh Erry Riyana. Pak Erry mengungkapan bahwa permasalah korupsi di Indonesia sudah carut marut dan membutuhkan waktu minimal 30 tahun agar tuntas sampai ke akarnya. Nilai, moral, dan etika berperilaku harus mengarah kea rah yang benar agar posisinya lebih kuat daripada hukum.

Korupsi adalah salah satu kejahatan luar biasa, oleh karena itu dibentuklah KPK. Korupsi merupakan akibat dari tiga hal dasar: kesempatan, rasionalisasi, dan insentif. Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang tegas agar tercipta strategiyang bisa menghasilkan budaya anti-korupsi. Pemimpin harus memilikia sikap berani mengambil resiko, bertanggung jawab, dan andal.

Diskusi selesai pukul 09:30 dan dilanjutkan dengan menonton “Selamat Siang, Risa!” yang merupakan salah satu dari empat film sekuel “Kita Vs. Korupsi”. Film ini disutradarai oleh Ine Febriyanti dan bercerita tentang seorang ayah yang kukuh pada pendirian tidak menerima suap walaupun keadaan ekonomi sedang mencekik keluarganya. Dengan durasi 17 menit, film pendek ini mengedepankan nilai integritas di tengah kekacauan sistem pemerintahan dan hokum yang berada di titik nadir. Satu petikan Ine yang saya suka adalah “kebaikan lahir dari kebaikan sebelumnya”.

Materi dilanjutkan dengan menonton film “Batas” di Blitzmegaplex Pacific Place yang dimulai pukul 14:30. Dalam film ini, Marcella Zalianty berperan sebagai tokoh utama sekaligus produser. Film berdurasi panjang ini mengisahkan kondisi eksisting daerah perbatasan. Mengambil latar perbatasan Kalimantan Barat dengan negara Malaysia, film ini menceritakan kesenjangan yang amat mencolok antara Indonesia dengan Malaysia.
Infrastruktur yang buruk menyebabkan aksesibilitas yang buruk pula. Hal ini berdampak pada minimnya layanan yang tersalur oleh pemerintah Indonesia ke desa terpencil di perbatasan. Padahal, daerah perbatasan adalah garda terdepan atau halaman sebuah rumah yang bernama Indonesia. Tidaklah aneh apabila banyak penduduk yang lebih memilih menjadi warga negara seberang karena faktor kesejahteraan. Satu hal mendasar yang harus menjadi prioritas adalah pendidikan. Perlu disadari bahwa pendidikan bisa menjadi life changing experience. Oleh karena itu, baik infrastruktur dan sumber daya manusia di bidang pendidikan di daerah perbatasan harus menjadi fokus utama pembenahan agar kesejahteraan tidak terdesentralisasi hanya di Pulau Jawa.

Sumber 1: Corruption (Extraordinary Crime)
Sumber 2: Corruption and Integrity
Sumber 3: Borderline